“Hai, Rena”. Sambil mengulurkan tangan kanan.
“Anry”. Balasnya.
Itulah awal perkenalan kami secara langsung di kos temen ku Lio. Aku sama Anry sebenarnya sudah kenal duluan lewat dunia sms. Anry duluan yang memulai sms ke no ku minta kenalan. Kita banyak bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing lewat sms. Anry ini sebenarnya temen kakak kelas SMU ku Awan namanya. Dia suda lulus sekarang. Dari Awanlah Anry mendapatkan no Hp ku. Awal perjumpaan kami, aku merasa biasa-biasa aja. Aku gak merasa deg degan, canggung, sama seperti pertama kali berkenalan dengan teman-teman ku yang lainnya. Itulah awal pertemuan aku dengan Anry 2 minggu yang lalu.
Teeeeet!!! bel istirahat siang berbunyi.
“baiklah anak-anak pelajaran selesai sampai di sini, kita lanjutkan di pertemuan berikutnya. Mari kita akhiri pelajaran hari ini dengan mengucapkan Hamdalah…, Alhamdulillahirobbil’alamin” kata bu guru Pus seperti biasanya setiap kali mengakhiri pelajaran.
“baiklah anak-anak pelajaran selesai sampai di sini, kita lanjutkan di pertemuan berikutnya. Mari kita akhiri pelajaran hari ini dengan mengucapkan Hamdalah…, Alhamdulillahirobbil’alamin” kata bu guru Pus seperti biasanya setiap kali mengakhiri pelajaran.
Sekarang aku duduk dibangku kelas 3 SMU. Tepatnya di kelas 3IPA II. Kelas ku itu rame banget orang-orangnya tapi itulah yang membuat semakin seru di dalam kelas ku. Lagi sibuk membereskan buku di meja ku, tiba-tiba Anty memanggil ku. Saat itu kelas sudah mulai lumayan sepi hanya ada beberapa anak yang masih betah di kelas dengan kesibukan masing masing. Yang lainnya sudah pergi menyerbu kanti sekolah.
“Ren, sini..” Anty memanggil ku, yang duduk satu selang di belakang ku.
“iya ntar” jawab ku.
“cepatlah…” paksa Anty.
“iya ntar” jawab ku.
“cepatlah…” paksa Anty.
“ada apa sih?” tanya ku sambil berjalan ke arahnya.
“ayo dunk cerita, tentang si tetangga sebelah…udah sampai mana hubungan kalian?”tanyanya.
Anty itu sahabat ku semua hal yang aku alami pasti aku ceritakan ke dia,termasuk tentang Anry. Tetangga sebelah yang dimaksudnya adalah Anry. Anry sekolahnya masih 1 komplek dengan sekolah ku tetapi, Anry itu STM sedangkan aku SMU. Jadinya gedung sekolah kita bersebelahan. Makanya di panggil oleh Anty dengan sebutan tetangga sebelah. Anry itu masih kelas 2 STM, lebih muda setahun dari aku.
“cerita apaan? Hubungan apaan?”jawab ku sambil senyum senyum kecil.
“ayolah…”paksanya lagi.
“udah ah, ingat kita udah kelas 3 belajar-belajar untuk UAN besok” elak ku.
“huuuu gaya mu Ren”cibirnya.
AKu hanya tertawa saja melihatnya seperti itu. Tidak lama kemudian temen-temen yang lain pada datang ke meja kami sambil membawa makanan dari kantin. Pembicaraan kami tentang tetangga sebelah terhenti sampai di situ.
Sebenarnya Anry sudah menyatakan rasa sukanya kepada ku 2 hari yang lalu melalui telepon rumah. Aku belum berani untuk menceritakannya kepada Anty. Anry sering menelepon ke rumah, dalam seminggu bisa 3 atau 4 kali tapi itu malam biasanya di atas jam 8 malam. Aku sudah hafal banget kapan, jam berapa dia akan menghubungi ku. Kita saling cerita apa yang bisa diceritakan. Menurut aku Anry itu orangnya perhatian banget.
Malam itu telepon rumah berdering, dan yang mengangkatnya pertama kali kakak pertama aku, kak Emy.
“Assalamu’alaikum” salam kak Emy.
“Wa’alaikumsalam, Rena nya ada kak?” jawab di seberang.
“dari siapa ya?” tanya kakak ku lagi.
“Anry kak” jawabnya.
“oya, sebentar ya…”sambil meletakkan gagang telepon “Rena ada telepon… “panggil kak Emy.
Malam itu telepon rumah berdering, dan yang mengangkatnya pertama kali kakak pertama aku, kak Emy.
“Assalamu’alaikum” salam kak Emy.
“Wa’alaikumsalam, Rena nya ada kak?” jawab di seberang.
“dari siapa ya?” tanya kakak ku lagi.
“Anry kak” jawabnya.
“oya, sebentar ya…”sambil meletakkan gagang telepon “Rena ada telepon… “panggil kak Emy.
“iya…” jawab ku. “Assalamu’alaikum” salam ku.
“Wa’alaikum salam, Rena.lagi ngapaen? menggangu gak nih?”tanyanya.
“gak…Ni Anry ya?”tanya ku balik.
“Iya,ni Anry. Sudah makan Ren?”tanyanya lagi.
“Udah Nry”.
“Wa’alaikum salam, Rena.lagi ngapaen? menggangu gak nih?”tanyanya.
“gak…Ni Anry ya?”tanya ku balik.
“Iya,ni Anry. Sudah makan Ren?”tanyanya lagi.
“Udah Nry”.
Lalu kami mengobrol seperti biasanya. Selagi asyiknya bercerita, tiba-tiba suasana terasa hening. Kita berdua saling diam tak bersuara.
“hhhmmmm aku mau bilang sesuatu sama kamu Ren,penting dan serius..” mulai Anry lagi
“bilang apa Nry?” jawab ku.
“hhhmmmm aku mau bilang sesuatu sama kamu Ren,penting dan serius..” mulai Anry lagi
“bilang apa Nry?” jawab ku.
“hhhmmmm ….”
“Kenapa sih, kok jadi canggung begini?” tanya ku lagi sambil tertawa.
“aku suka sama kamu Ren, mau jadi pacar ku?” tanyanya.
Jheglarr!! Haduh, gimana nih tanya ku dalam hati.tapi dari suaranya serius banget. Kalo di ajak becanda ntar malah tersinggung dianya.haaaduh gimana nih ucap ku dalam hati lagi.
“Ren? Halo Ren?”tanyanya.
“i..ya?”jawab ku ragu.
“gimana?” tanyanya lagi.
“i..ya?”jawab ku ragu.
“gimana?” tanyanya lagi.
“Bukannya bisa dikatakan kita ni baru kenal Nry?” tanya ku balik.
“iya sih, tapi aku sudah mantap Ren dengan hati ku ini, walaupun kita baru kenal beberapa minggu tapi aku seperti sudah lama banget mengenal mu dan…aku mau jawaban kamu sekarang juga apapun itu akan aku terima Ren, gimana?” ucapnya.
“Sekarang ku bingung Nry, ini mendadak banget bagi ku. Kalau di minta menjawab aku tidak tahu harus jawab apa…” aku berhenti berbicara. Ayo berfikir Rena apa yang kamu katakan jangan sampai menyakitinya. “Hmmmmm, tapi Nry, sekarang aku Cuma bisa bilang maaf, untuk saat ini aku tidak bisa. Aku mau Fokus sama Ujian Akhir. Tapi aku tidak tahu untuk ke depannya bagaimana. Yang pasti untuk saat ini aku tidak bisa… Maaf. Aku berharap kamu bisa menerimanya.” Ujar ku.
Suasana di antara kami sunyi kembali. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Baiklah Ren, aku mengerti” ucapnya pelan memecah keheningan.
“kamu tidak marahkan Nry?”tanya ku cemas.
“kenapa aku harus marah Ren?” ucapnya sambil tertawa kecil. “ini udah resiko aku Ren, aku sudah bilangkan akan menerima semua keputusan mu” katanya lagi.
“Sekarang ku bingung Nry, ini mendadak banget bagi ku. Kalau di minta menjawab aku tidak tahu harus jawab apa…” aku berhenti berbicara. Ayo berfikir Rena apa yang kamu katakan jangan sampai menyakitinya. “Hmmmmm, tapi Nry, sekarang aku Cuma bisa bilang maaf, untuk saat ini aku tidak bisa. Aku mau Fokus sama Ujian Akhir. Tapi aku tidak tahu untuk ke depannya bagaimana. Yang pasti untuk saat ini aku tidak bisa… Maaf. Aku berharap kamu bisa menerimanya.” Ujar ku.
Suasana di antara kami sunyi kembali. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Baiklah Ren, aku mengerti” ucapnya pelan memecah keheningan.
“kamu tidak marahkan Nry?”tanya ku cemas.
“kenapa aku harus marah Ren?” ucapnya sambil tertawa kecil. “ini udah resiko aku Ren, aku sudah bilangkan akan menerima semua keputusan mu” katanya lagi.
“Kita masih bisa berteman seperti sebelum-sebelumnyakan?” tanya ku lagi.
“tentu saja, itu pasti.” Jawabnya tegas. “ Ren, dari jawaban yang kamu katakan tadi, berarti aku masih punya kesempatan kan?” tanyanya.
“mungkin, Kalau Allah menghendakinya demikian. Kalau memang kita berjodoh di kemudian hari. Kita tidak bisa mengelaknya bukan. Sekarang aku tidak mau memikirkan hal yang lainnya dulu Nry. Aku mau fokus untuk menghadapi ujian Akhir besok. Aku sudah kelas 3. Makanya hanya itu jawaban yang terlintas di kepala ku sekarang ini.” Jawab ku polos.
“tentu saja, itu pasti.” Jawabnya tegas. “ Ren, dari jawaban yang kamu katakan tadi, berarti aku masih punya kesempatan kan?” tanyanya.
“mungkin, Kalau Allah menghendakinya demikian. Kalau memang kita berjodoh di kemudian hari. Kita tidak bisa mengelaknya bukan. Sekarang aku tidak mau memikirkan hal yang lainnya dulu Nry. Aku mau fokus untuk menghadapi ujian Akhir besok. Aku sudah kelas 3. Makanya hanya itu jawaban yang terlintas di kepala ku sekarang ini.” Jawab ku polos.
“iya Ren” Ucapnya pelan hampir tidak terdengar.
Aku jadi kasihan mendengar suaranya. Aku yakin pasti Anry kecewa banget mendengar jawaban ku ini. Tapi aku merasa bersalah juga memberikan jawaban yang menggantung kepadanya.
“Begini saja, apa kamu mau menunggu jawaban yang benar-benar pasti dari ku setelah selesai aku melewati ujian akhir?”tanya ku
“maksudnya?”tanyanya bersemangat.
“iya, jawaban yang pasti. Setelah aku melewati ujian akhir, tidak ada beban lagi yang aku rasakan jadi aku bisa memantapkan jawaban atas pernyataan kamu Nry, aku bisa memikirkannya kembali. Tidak jelas seperti sekarang ini. Tapi aku tidak bisa menjamin kalau jawaban ku itu bisa memuaskan kamu, sekarang itu semua tergantung sama kamu mau atau tidak menungggunya.” Jelas ku.
“selesai ujian akhir??? Itukan masih 5 bulan lagi REn???”tanyanya kaget.
“iya”jawab ku tegas. “aku tidak memaksanya, itu semua tergantung kamunya Nry, mau apa tidak menunggunya. Yang pasti jawaban ku itu belum tentu jawaban yang mengembirakan untuk mu, aku katakan itu dari sekarang agar tidak membuat kamu kecewa di kemudian harinya. Itu semua terserah kamunya…apa mau menjalankannya apa tidak”
“menunggu selama 5 bulan ke depan” ucapnya pelan, penuh keraguan.
(bersambung)








